Penyuluhan Sosial Cacat Grahita di Banyuwangi

Penyuluhan
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa anak cacat didefinisikan sebagai anak yang mengalami hambatan fisik atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar. Pada pasal yang sama ayat 15 dalam Undang-Undang tersebut juga menjelaskan bahwa anak yang menyandang cacat merupakan kelompok anak yang membutuhkan perhatian dan perlindungan khusus, termasuk pemenuhan kebutuhannya melalui berbagai pelayanan. Dalam konteks ini keluarga, masyarakat, dan pemerintah memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap upaya perlindungan anak.

Demikian juga dengan anak berkelainan mental subnormal atau disebut pula dengan terbelakang mental, lemah ingatan, febleminded, mental subnormal, cacat grahita. Semua makna dari istilah tersebut sama, yakni menunjuk kepada seseorang yang memiliki kecerdasan mental di bawah normal. Secara umum keberadaan anak dengan kecacatan mental /grahita terkadang dianggap beban, aib yang keberadaannya disembunyikan atau diisolasi dari kehidupan masyarakat. Kecacatan pada anak merupakan kondisi yang tidak diinginkan oleh siapapun.

Orang Dengan Kecacatan Mental Grahita memang memiliki keterbatasan kemampuan intelektual, yang membuat mereka mengalami berbagai masalah. Akan tetapi secara fisik, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa untuk dikembangkan dengan metode pelatihan dan pendampingan yang intensif dalam bimbingan jasmani adiktif yang melibatkan orang tua, keluarga, sekolah, dan panti-panti rehabilitasi sosial ODK mental. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah memberikan rasa nyaman dan aman melalui perlindungan dan perawatan.

Pelaksanaan program rehabsos ODK mental grahita perlu selalu ditingkatkan dan disempurnakan, baik mutu maupun jumlahnya ke arah tercapainya tujuan kemandirian ODK mental grahita.

Plt. Kepala UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Grahita Tuban, Drs.Ec. KUSMADI, MM., mengatakan, “ODK mental grahita tidak memerlukan kasihani dari orang sekitar/masyarakat, namun mereka memerlukan perlindungan dan perawatan sesuai dengan tumbuh kembang ODK mental grahita. Apapun kata orang, mereka anak-anak kita, mereka punya hati dan nurani, mereka juga ingin berbahagia seperti kita.......”. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan penyuluhan sosial “Upaya Pelayanan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat Mental Grahita” di Kecamatan Tegalsari-Kabupaten Banyuwangi, bulan Pebruari yang lalu.

(juniandri, 2013)