79

Puncak peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Tingkat Jawa Timur tahun 2019 yang dipusatkan di Alun-Alun Jombang, Sabtu (14/12/2019) seakan menjadi nutrisi penyemangat bagi para relawan sosial (resos) di Jatim.

Betapa tidak, di hadapan ribuan pilar-pilar sosial yang hadir dari 38 kabupaten/kota, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa memacu semangat mereka untuk berjibaku mengentaskan masalah sosial dan kemiskinan di provinsi ini.

Upaya memacu semangat resos itu dilakukan Khofifah dengan merefleksikan sejarah lahirnya peringatan HKSN.

Khofifah mengungkapkan, sejarah lahirnya HKSN itu dilatarbelakangi semangat heroisme, tepatnya saat terjadi agresi militer ke-2 Belanda pada 19 Desember 1948. Kala itu, Belanda datang ke Yogyakarta untuk menguasai kembali Indonesia.

Soekarno dan Bung Hatta saat itu menjadi tahanan kota. Bung Karno meminta agar Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk tidak keluar kota, karena kondisinya bahaya. Namun, Jenderal Soedirman malah mengambil posisi perang gerilya yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Keputusan Jenderal Soedirman ternyata mendapat dukungan rakyat Indonesia. Hampir di setiap daerah yang dilalui, masyarakat berjibaku membantu dan melayani Jenderal Soedirman dan pasukannya. Semangat kesetiakawanan itulah yang akhirnya terus diteladani dan diperingati hingga kini

"Jadi, sejarah HKSN ini tarikannya heroisme. Pada saat itu bangsa Indonesia bersatu, berikhtiyar menjaga dan melayani Panglima Besar Jenderal Sudirman yang bergerilya,” terang Khofifah.

Karena itulah, Khofifah minta semua masyarakat Jatim, khususnya para relawan sosial mengambil semangat heroisme itu untuk bersama-sama mengatasi masalah sosial dan kemiskinan di Jatim.

Apalagi usai proklamasi, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang melahirkan Kementerian Sosial pada 20 Agustus 1945 berpesan, bahwa tugas menteri sosial itu mengatasi kemiskinan dan melayani masyarakat terlantar. Pesan itu kemudian dituangkan dalam UUD 1945 pasal 34.

"Maka, saya minta kepada semua relawan sosial dan pilar-pilar sosial, lebih khusus kepada para pendamping PKH untuk menyemangati pasal 34 itu," pesannya.

Selain pendamping PKH, relawan sosial yang dimaksud adalah kelompok taruna siaga bencana (Tagana), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), penyuluh sosial, dan Karang Taruna.

Sebagai upaya memotivasi dan mengapresiasi kiprah para resos, Khofifah juga memberikan penghargaan dan santunan kepada sejumlah relawan berprestasi.

Plt Kadinsos Jatim, Subban Wahyudiono, dalam sambutannya melaporkan nama-nama penerima penghargaan dan santunan yang diberikan Gubernur Khofifah.

Yakni, Tagana berprestasi yang diterima Korp Tagana Tuban, TKSK berprestasi yang diraih Mariyam S.Pd (TSK Kec. Rejoso Kab Pasuruan), PSM berprestasi Abdul Rahman (Jambangan, Surabaya), pendamping PKH dengan graduasi tertinggi diraih Solehah S.Pd (Lumajang), Lembaga Kessos (LKS) terbaik yang diraih LKS Yatim Mandiri (Surabaya) dan Karang Taruna berprestasi yang disabet Karang Taruna Rejo Mulyo, Kel. Ngagelrejo, Wonokromo, Surabaya.

Selain para relawan, dalam peringatan itu juga diserahkan penghargaan untuk kepala daerah peduli Pemerlu Pelayanan Kessos (PPKS) yang diraih Bupati Jombang, Mundjidah Wahab.
Sementara, santunan juga diberikan kepada sejumlah kalangan, di antaranya, penjaga makam pahlawan nasional mulai dari makam KH Hasyim Asy'ari, makam KH Wahab Hasbullah dan KH. Wahid Hasyim.

 

(ay)

Related Comments



Atasi Kelangkaan APD, Dua UPT Dinsos Jatim Produksi Sendiri Masker Corona

Dinsos Jatim Siaga Hadapi Covid-19

Bersinergi dengan Pemdes, Pensosmas Banyuwangi Gelar Aksi Cegah Covid-19

Gandeng Dinsos Jember, TKSK Ambulu Lakukan Penjemputan ODGJ yang Alami Laka Lantas di Probolinggo

Kadinsos Minta TKSK Jadi Pionir Penanganan Corona di Level Kecamatan