67

Aam tidak bisa menyembunyikan kekagumannya saat mengunjungi Museum 10 November untuk pertama kalinya, Senin (7/10/2019) lalu. Dengan alat bantu untuk berjalan, Aam mengelilingi museum yang berada di Jalan Pahlawan Surabaya itu. Keterbatasan fisiknya tidak membatasi ruang geraknya. Beberapa hal yang berkesan bagi pemuda asal Gresik itu adalah ketika menonton film dokumenter pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dan ketika mendengarkan pidato Bung Tomo yang berapi-api.

“Senang sekali bisa diajak ke sini. Menambah wawasan, yang paling penting bisa tahu bagaimana suasana saat perang. Keren. Apalagi saat mendengar Bung Tomo pidato, merinding saya,” ungkap pria bernama lengkap Muhammad Amanatullah ini.

Hari itu Aam tidak sendiri. Dia bersama dengan 23 rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas dan pendamping sedang mengikuti tur Kota Surabaya yang diadakan Dinas Sosial Provinsi Jatim. Museum 10 November merupakan titik ketiga yang dikunjungi. Dipandu tim dari Dinas Pariwisata Kota Surabaya, tur itu diawali dengan mengunjungi Balai Kota Surabaya, Museum Siola, lalu diakhiri dengan kunjungan ke Museum de Javasche Bank.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jatim Sukesi mengatakan, para peserta tur adalah klien UPT Dinas Sosial yang akan mengikuti pameran Jatim Fair 2019, 8 hingga 13 Oktober 2019. Mereka merupakan penyandang disabilitas, antara lain tunadaksa, tunagrahita, tunanetra, tunarungu wicara.

Tur kota itu diadakan dalam dua gelombang, Minggu (6/10/2019) dan Senin (7/10/2019).

“Selain berwisata, tur ini diadakan untuk menambah wawasan dan orientasi lingkungan mereka. Sebelumnya mereka sudah pernah mengikuti pameran, tapi untuk tur kota baru pertama kali ini diadakan,” katanya.

Kabid Pengembangan Penyelenggaraan Kessos Choirun Nawalah menambahkan, para penyandang disabilitas tersebut akan unjuk kebolehan dalam Jatim Fair 2019. Mereka memahat, melukis, menggambar, membuat aneka kerajinan, memotong rambut, hingga memijat. Misalnya, Aam yang melukis dengan kaki, Bilal yang memahat tanpa lengan, dan Rizky yang menggambar tanpa jari jemari.

“Ini menunjukkan bahwa keterbatasan mereka tidak membatasi mereka untuk berkreasi dan mandiri,” pungkasnya. 

(ay)

Related Comments