100

Batik dengan berbagai warna tertata rapi di stan batik ciprat Percik Rombo binaan Dinas Sosial. Perpaduan antara warna yang cerah dan motif yang sedikit abstrak membuat batik itu tampak indah.

Tak hanya memamerkan batik yang sudah jadi. Di stan itu, tampak Puji Santoso, Wahono, dan Wahyu yang sedang sibuk membuat batik ciprat di selembar kain putih. Mereka membuat motif batik dengan kuas cat dan stik yang ujungnya diberi semacam gumpalan kain. Sementara rekannya, Arif Budianto sibuk menata stan agar semakin rapi.

Sekilas, mereka terlihat seperti orang normal lainnya. Namun jika dilihat lebih dekat, Puji Santoso merupakan penyandang tunadaksa, sementara Wahono, Wahyu, dan Arif merupakan penyandang tunagrahita.

Mereka berempat bergabung dalam KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Harapan Mulia yang berlokasi di Desa Resapombo, Kec. Doko, Kab. Blitar. Batik-batik yang dipamerkan di stan tersebut merupakan hasil karya mereka dan rekan-rekan disabilitas lainnya yang tergabung dalam KSM tersebut.

Sri Ningsih, pendamping dari KSM Harapan Mulia menuturkan, kegiatan yang dilakukan KSM Harapan Mulia berawal dari kegiatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) yang dibentuk Unit Pelayanan Sosial Keliling (UPSK) Dinas Sosial Provinsi Jatim dan Dinas Sosial Kab. Blitar pada tahun 2016.

Para pendamping kemudian berinisiatif untuk mendirikan shelter workshop peduli di Resapombo dengan nama KSM Harapan Mulia. “Desa Resapombo dipilih karena di desa ini ditemukan tunagrahita terbanyak di Kab. Blitar,” ujar perempuan yang akrab disapa Naning itu.

Di Desa Resapombo, Dinsos memberikan berbagai pelatihan untuk para penyandang disabilitas. Mulai dari membatik, kerajinan tangan, membuat kue, dan sebagainya. Dari berbagai pelatihan yang diberikan itu, ternyata yang paling cocok adalah membuat batik.

Naning menjelaskan, bahan pembuatan batik ciprat sama dengan batik tulis. Yang membedakan adalah alat yang dipakai untuk mengerjakan.

“Kami menyesuaikan kemampuan mereka, karena mereka tidak bisa mencanting. Kecuali yang tunadaksa dan tunarungu wicara. Itu pun yang sekolah. Nah, kami merekrut mereka yang berasal dari keluarga menengah ke bawah, tidak sekolah dan tidak punya pekerjaan,” lanjutnya.

Setelah diberi pelatihan selama 15 hari, program pemberdayaan disabilitas di Resapombo ini di-launching Bupati Blitar. Masyarakat sekitar juga memberikan respon yang bagus. Hingga kini terdapat 23 penyandang disabilitas yang diberdayakan dengan didampingi empat orang pendamping. Pada tahun 2018, program ini mengantarkan Kab. Blitar mendapatkan penghargaan Top 25 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Jatim dan penghargaan Good Practice Awards (OA) Ayo Inklusif! 2018.

“Ini merupakan misi sosial sekaligus membangkitkan ekonomi. Alhamdulillah anak-anak punya tabungan sendiri-sendiri, meskipun mungkin hanya Rp 100 ribu setiap bulan,” tutur Naning. 

(ay)

Related Comments