36

Hadapi Bencana Hidrometereologi, Dinsos Gelar Rakor Tagana se-Jatim

Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki risiko tinggi terjadinya bencana hidrometereologi. Bencana yang diakibatkan oleh parameter metereologis ini berwujud seperti, angin kencang, banjir, longsor, dan puting beliung.
Mengantisipasi hal itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometereologi di wilayah Jatim, sebagaimana yang tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Nomor 188/650/KPTS/013/2019 tertanggal 16 Desember 2019.

Menindaklanjuti SK tersebut, Dinas Sosial Provinsi Jatim pun menggelar rapat koordinasi siaga bencana hidrometereologi di kantor Dinsos Jatim, Senin (6/1/2020).
Dalam kegiatan yang diikuti perwakilan Tagana (Taruna Siaga Bencana) dan perwakilan Dinsos 38 kabupaten/kota se-Jatim ini, Kepala Dinsos Jatim Dr Alwi meminta Tagana se-Jatim yang berjumlah sekitar 1.600 orang untuk meningkatkan kewaspadaan dan siap siaga bencana, terutama dalam 150 hari sejak dikeluarkan SK Gubernur Jatim.

Ditegaskan, berdasarkan data BMKG, puncak cuaca ekstrem diperkirakan terjadi pada akhir Januari hingga Februari. Meski saat ini belum memasuki puncak, namun bencana hidrometereologi dilaporkan telah terjadi di beberapa daerah.
“Untuk tahun ini diperkirakan frekuensi ancaman berbeda dengan tahun sebelumnya. Awal Januari prediksinya belum puncak, puncaknya di akhir Januari hingga Februari. Tetapi, saat ini sudah mulai terjadi cuaca ekstrem. Karena itu, perlu ada peningkatan kewaspadaan dari kita semua,” tuturnya.

Lebih lanjut, Alwi meminta komitmen Tagana untuk hadir di lokasi bencana 1 jam pasca bencana untuk melakukan penanganan awal.
Orang nomor satu di lingkungan Dinsos Jatim ini kemudian mengatakan, dalam satu minggu ke depan, BMKG memperkirakan adanya potensi bencana sambaran petir, angin kencang, banjir, dan tanah longsor di 12 kabupaten/kota. Di antaranya adalah Ponorogo, Ngawi, Bojonegoro, Nganjuk, Jember, dan Banyuwangi.

Dia pun meminta kabupaten/kota untuk lebih mengaktifkan posko siaga bencana di masing-masing daerah dan siap siaga selama 24 jam, terutama di beberapa daerah yang diprediksi terjadi bencana. Mantan Kepala Bakorwil Pamekasan ini juga memerintahkan untuk membentuk tim siaga bencana untuk percepatan laporan.

Sementara itu, Plt Sekretaris Dinsos Jatim Restu Novi Widiani menambahkan, Tagana menjadi garda terdepan di lokasi bencana. Selain Tagana, di garda terdepan juga ada Kampung Siaga Bencana (KSB) yang berasal dari masyarakat setempat yang telah dilatih Dinsos.
“Ketika pemerintah belum hadir, mereka diharapkan lebih dulu sampai di tempat bencana untuk melakukan penanganan awal. Jika menunggu pemerintah, dikhawatirkan memakan waktu dan korban tidak bisa terselamatkan,” jelasnya.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Kabid Perlindungan Jaminan Sosial Dinsos Jatim ini menambahkan, di lokasi bencana Tagana tidak hanya datang, tapi juga mengamati dan melaporkan kepada Dinsos mengenai kebutuhan yang diperlukan.
“Kami juga menginformasikan kepada daerah-daerah, selain piket, juga harus mengoptimalkan KSB-KSB di sekitarnya,” pungkasnya. (ul)

Related Comments