81

Pelaksanaan Jatim Fair 2019 yang berlangsung di Convention Hall Grand City, Surabaya, telah resmi dibuka Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Selasa (8/10/2019). Berbagai kegiatan bakal terus digelar di even tahunan yang akan berakhir hingga Minggu (13/10//2019) itu.

 

Selain pameran dan semarak wisata belanja, kegiatan rangkaian Hari Jadi Jatim ke-74 itu juga menyuguhkan kegiatan talkshow, demo produk, launching produk, pesta mainan anak indoor dan outdoor, display sampling, aneka lomba & doorprize, serta bazar dan gebyar diskon.

 

Khusus pameran, berbagai produk kerajinan daerah, potensi binaan OPD dan BUMD di lingkungan Pemprov Jatim dan luar Jatim juga dipamerkan di area lantai 1 dan lantai 3 Jatim Fair. Sejumlah artis dan band ibukota juga dijadwalkan tampil di acara tersebut. Di antaranya Band Padi, Tipe-X, Naif, Tulus  dan Sheila On 7. 

 

Para pengunjung yang datang dan berkeliling melihat pameran tak perlu khawatir akan merasa capek. Sebab, Dinsos Jatim telah menyiapkan satu stand khusus yang melayani pijat dengan tenaga terampil para penyandang disabilitas tuna netra.

 

Sebanyak 14 tenaga pijat tuna netra telah dihadirkan dalam even Jatim Fair tahun ini. Mereka terdiri dari 12 tenaga tuna netra laki-laki dan 2 tenaga tuna netra perempuan. Di stand Panti Sosial Bina Netra (PSBN) yang berlokasi di lantai 3 area Jatim Fair itu, juga telah disiapkan kursi panjang sebagai media pelayanan pijat. Selama masa pelaksanaan Jatim Fair, mereka siap berpraktik dengan pembagian waktu dua shift.

 

Wiwit Agus Sutriyono, selaku pendamping penyandang tuna netra mengungkapkan, tenaga pijat tuna netra itu merupakan klien Dinsos Jatim yang tinggal di asrama PSBN Malang. Mereka selama ini telah dibekali ilmu pijat, baik massage, refleksi maupun shiatsu. Proses pembelajaran yang diberikan kepada mereka berlangsung selama 2 tahun. Mulai dari ilmu pijat dasar untuk mengenal anatomi tubuh, hingga proses kejuruan yang berfungsi penyembuhan.

 

‘’Untuk tahun pertama, proses pembelajarannya berupa 60 persen teori dan 40 persen praktik. Selanjutnya, di tahun kedua dibalik, 40 persen teori dan 60 persen praktik,’’ ujar pria yang juga menjadi instuktur pijat di PSBN Malang ini.

 

Mendampingi Kepala UPT PSBN Malang, Ilonka Suksmawati, ia juga menambahkan, saat ini, beberapa tenaga pijat tuna netra itu bahkan sudah mahir dan telah berkegiatan sebagai tukang pijat di workshop PSBN Malang. Setiap harinya, mereka bekerja melayani permintaan pijat dari masyarakat di sekitar PSBN.

 

‘’Alhamdulillah, mereka bisa dapat tambahan penghasilan dari sana, dan itu merupakan proses bagi mereka untuk bisa hidup mandiri di kemudian hari,’’ ungkap Wiwit.

 

Ari Fajar (32), penyandang tuna netra asal Lumajang merupakan salah satu tenaga pijat yang dihadirkan di stand PSBN Pijat di area Jatim Fair. Saat ini, ia menjadi klien Dinsos Jatim yang telah berproses menyiapkan kehidupan mandiri.

 

Ia pun mengaku sangat berterima kasih dengan Pemprov Jatim, khususnya Dinsos Jatim yang telah memberikan berbagai bekal keterampilan selama tinggal di PSBN Malang.

 

‘’Ya, selain mendapat bekal keterampilan pijat, membuat keset dan membuat telor asin, saya merasa senang karena bisa kenal dengan banyak teman yang sama. Itu juga yang memotivasi kami untuk tidak menyerah dengan keadaan dan terus berusaha,’’ ujar Ari, pria yang telah berkeluarga dan memiliki 2 anak ini.

(ay)

Related Comments